Friday, July 31, 2009

Ramah Lingkungan Tapi Mahal

Mobil elektrik dan hibrid (semi-bbm) memiliki peran yang dominan untuk mengurangi produksi emisi bbm di dunia. Walaupun demikian, untuk memproduksi dan memfasilitasi mobil elektrik dan hibrid membutuhkan biaya yang sangat besar.

Biaya Produksi Masih Mahal

Menurut Boston Consulting Group, sebuah perusahaan konsultan manajemen di Amerika Serikat, pemerintah AS perlu memberikan suntikan dana untuk membantu baik konsumen maupun produsen mobil hibrid supaya lebih terjangkau untuk masyarakat. Jumlahnya tidak sedikit, biaya yang dapat disimpan dari penghematan penggunaan bbm pun belum mampu untuk menandingi besarnya insentif yang harus diberikan pemerintah AS. Walaupun di masa depan permintaan pasar mobil elektrik dan hibrid akan melonjak, biaya produksinya masih terlampau tinggi.

Pada skenario yang “paling mungkin” terjadi, dimana harga minyak mentah mencapai $150 per barrel dan Pemerintah AS telah mencanangkan program pengurangan CO2 - sekitar 11 juta hibrid dan 3 juta mobil elektrik akan dijual. Tetap hanya mampu menjual 28% nya saja, bahkan di dalam potensi pasar yang terbesar di dunia. Bahkan dengan tingginya level penetrasi pasar tersebut, pemerintah di Eropa membutuhkan paling sedikit $70 milyar. Bandingkan dengan besarnya biaya yang dapat dihemat dari konversi bbm-elektrik yang hanya $6 milyar, kata BCG.

Subsidi Untuk Manufaktur dan Konsumen

Investasi semacam ini membutuhkan komitmen dari yang kuat dari produsen untuk mencanangkan program pengurangan gas rumah kaca walau berapapun banyaknya biaya yang dibutuhkan. Jika cost-effectiveness yang ingin dicapai, maka peningkatan output mesin merupakan pilihan yang terbaik. Menggunakan teknologi semacam turbocharging dan injeksi bahan bakar akan membutuhkan biaya sekitar $70 hingga $140 per mobil per persentase reduksi CO2. Efisiensi mesin sebanyak 20% akan membutuhkan biaya sekitar $1.200 per mobil.

Mobil semi dan full hibrid membutuhkan lebih banyak lagi, sekitar $140 hingga $280 dibutuhkan pada setiap persen dari pengurangan reduksi CO2. BCG memperkirakan untuk setiap mobil hibrid tersebut membutuhkan biaya $7.000 dengan teknologi masa kini. Di tahun 2020 diperkirakan akan turun hingga $4.000. Pada masa tersebut, dengan biaya $130 hingga $160 per reduksi, maka mobil hibrid menjadi solusi ekonomis terbaik pada saat itu dibandingkan dengan mobil ber-bbm.

Beda halnya dengan mobil elektrik, tantangan yang dihadapi lebih besar dibandingkan mobil hibrid karena mereka membutuhkan baterai yang sangat mahal. BCG memperkirakan di 2020, batere yang dapat digunakan dalam jarak 80 mil akan berkisar pada $14.000. Tiga kali lipat lebih besar daripada mobil hibrid.

Jika pemerintah AS tidak memberikan insentif ke industri ini, maka manufaktur mobil elektrik akan menghadapi masalah keuangan, kata Xavier Mosquet, salah satu penulis laporan BCG. Memberikan pinjaman tidak akan berdampak baik kepada mereka, seperti mengasumsikan bahwa perusahaan akan mendapatkan untung dari penjualan, yang pada kenyataannya justru tidak.

Walaupun biaya produksi mobil elektrik sangat tinggi, BCG mendukung penuh insentif untuk produksi mobil elektrik. “BCG dikenal dengan statement yang mereka percayai sepenuhnya, walaupun bertentangan dengan perkiraan mereka”, kata Mosquet.

Melihat artikel ini jadi semakin pesimis, apakah masa depan mobil elektrik di Indonesia akan terlihat juga hingga tahun 2020 nanti. Walaupun usaha-usaha pencarian energi alternatif telah gencar dihembuskan oleh bapak presiden, namun belum terlihat adanya proses produksi massal yang patut dilirik oleh publik.

netsain/money.cnn.com

No comments:

Post a Comment